Disadur dari Yayasan Penginjilan Alkitab Sumut.
Perlu
barangkali kita samakan penegertian kita mengenai “Adat”. Sebenarnya,
ada 2 (dua) hal yang harus kita perlu cermati mengenai adat Batak, yaitu
adat formal, yang biasa dapat kita lihat dari pelaksanaan acara adat
Batak, mulai dari lahir, besar, menikah, samapai meninggal. Banyak
sekali praktek adat Batak yang berkaitan dengan siklus hidup orang
Batak. Kalau ada anak lahir, datanglah mertuanya “mamboan aek ni unte”,
“pasahat ulos parompa”, paebathon, setelah besar, anak laki-laki
biasanya “manulangi tulang”, untuk minta izin mau menikah dengan orang
lain, biasanya hanya anak laki-laki yang paling sulung, acara
pernikahan, sampai acara yang berkaitan dengan orang yang meninggal.
Semua ini adalah merupakan bagian dari adat formal.
Yang
kedua adalah yang disebut dengan adat material. Yang berhubungan dengan
adat material adalah sistem nilai yang terkandung di dalam budaya
Batak, yang umum kita tahu adalah konsep Dalihan Na Tolu, yaitu Somba marhula-hula, Elek Marboru, manat mardongan tubu, kadang-kadang ditambah lagi satu lagi burju mardongan sahuta. Dalihan na tolu adalah
suatu kerangka yang sangat baik, bagai mana orang Batak berinteraksi
dengan lingkungannya, yang kaya dengan sistem nilai yang sangat baik dan
dapat bertahan sepanjang zaman. Karena, sistem nilai yang ada di
dalamnya sangat universal dengan nilai-nilai religius yang sangat dalam.
Akar dari sistem nilai dalihan na tolu adalah kerendahan hati .
Bagaimana tidak, seorang orang Batak harus hormat sama hula-hulanya,
tanpa syarat. Tidak dikatakan, hormatilah hula-hulamu, kalau dia kaya,
punya jabatan, atau baik. Demikian juga, pada saat kita hula-hula, harus
elek kepada boru, walaupun dalam tatanan kekerabatan Batak, Boru adalah
kelompok yang dapat kita minta untuk melayani kita (marhobas), tetapi
dalam kedudukan kita yang lebih tinggipun kita harus elek. Manat
mardongan tubu, juga merupakan satu tatanan interaksi masyarakat Batak
kepada keluarga yang semarga yang sangat unik. kenapa dikatakan manat
(hati-hati). Dengan dongan sabutuha, sangat jarang didalam umpama/umpasa
yang memberikan kita solusi, untuk mendamaikan orang yang sabutuha
kalau terjadi konflik diantara mereka. Kalau mar-hula-hula, kita masih
bisa membawa makanan kepada hula-hula untuk minta maaf. Demikian juga
marboru, kita bisa memberikan ulos untuk minta maaf. Jadi kalau ada
orang yang mempertentangkan adat Batak dengan agama, agama apapun,
mungkin itu hanyalah ketidak tahuan dari sistem nilai budaya batak itu
sendiri.
Banyak
juga orang Batak yang memonopoli sifat-sifat buruk yang selalu
dikaitkan sebagai HANYA milik orang Batak, yang umum disebut TEAL, LATE,
dan ELAT. Tapi kalau kita uji, hampir semua suku bangsa, juga memiliki
sifat-sifat ini. Bedanya adalah, orang Batak berani mengakui, bahwa
sifat-sifat itupun ada di orang Batak, sedang masyarakat lain tidak
berani mengakuinya. Menurut saya ini juga hal yang positif. Sebab dengan
mengakuinya (awareness), adalah merupakan langkah awal untuk
menghindari, mengurangi atau bahkan mengilangkannya. Kalau kita tidak
ada pengakuan mengenai sifat-sifat yang jelek ini, maka kita akan
menganggap hal ini adalah hal yang lumrah.
Adat
Batak material yang lainnya, banyak terkandung di dalam umpama/umpasa
Batak, dalam hal ini, mungkin bisa kita undang natua-tua kita untuk
sesekali menjelaskan beberapa umpama/umpasa Batak. Di dalamnya
terkandung sistem nilai yang sangat baik.
HAKEKAT DAN MAKNA UPACARA ADAT BATAK
Sinkretisme
dalam kehidupan orang-orang Batak didasarkan pada pemahaman, bahwa
upacara adat itu hanya merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan oleh
leluhur. Karena itu keberadaannya perlu dilestarikan dengan cara
menyingkirkan beberapa hal yang dinilai me ngandung unsur Hasipelebeguon
seperti: perdukunan (Hadatuon), kesurupan (siar-siaran), pembuatan
patung-patung (gana-ganaan), jimat (parsimboraon), menyembah setan
(mamele begu) dan hal-hal lainnya. Hasipelebeguon itu hanya sebagian
dari bentuk tipuan yang dimainkan oleh iblis. Di luar itu, masih banyak
lagi bentuk hasipelebeguon lain yang sangat dibenci oleh Tuhan.
Hasipelebeguon itu mengambil bentuk yang lebih halus, sehingga sekilas
bisa dianggap tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.
Kita
tidak pernah mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam terhadap upacara
adat: tentang hakikat, makna, dan tujuan dari upacara adat itu
sebenarnya. Kita tidak pernah bertanya, apakah arti keberadaan upacara
itu bagi leluhur yang hidup pada masa sebelum Injil tiba di tanah Batak.
Apakah benar bahwa upacara itu sungguh-sungguh tidak bertentangan
dengan Firman Tuhan? Apakah layak sebagai pengikut Kristus kita terlibat
di dalamnya? Kita berpikir, karena hampir semua orang telah
melakukannya, maka tidak ada sesuatupun yang salah. Bahkan hampir semua
pemimpin umat Tuhan terlibat dalam aktivitas itu. Kita juga beranggapan,
bahwa identitas baru sebagai seorang Batak pengikut Yesus tetap
didasarkan pada nilai-nilai yang dianut oleh leluhur yang hidup dizaman
Hasipelebeguon. Kita telah menjadi orang Kristen yang kompromis dan
permisif, seperti ungkapan Batak yang mengatakan: “Eme na masak digagat
ursa, aha na masa ima na taula”.
Sinkretisme
dalam kekristenan Batak dihasilkan oleh cara berpikir parsial, yang
melihat upacara adat hanya sebagai unsur dari kebudayaan Batak yang
terpisah dari unsur-unsur budaya lainnya, seperti: religi, kesenian,
hukum, dan lainnya. Pandangan parsial merupakan suatu pola pikir yang
menguasai pemikiran orang Eropa pada abad 19. Mereka memisahkan antara
religi dengan berbagai unsur kebudayaan lainnya, seperti politik,
ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain. Pemikiran yang demikianlah yang
digunakan Missionaris untuk menilai kebudayaan Batak. Kebudayaan Batak
dinilai dari sudut pandang orang Eropa, bukan dari sudut pandang orang
Batak itu sendiri.
Pendekatan
antropologi memberikan pemahaman lebih menyeluruh (holistik) tentang
upacara adat. Pendekatan ini memandang upacara adat tidak hanya sebagai
aktivitas sosial yang berdiri sendiri, tetapi berupaya menggambarkan
segala nilai, ide, gagasan, paradigma, norma, dan kuasa roh yang ada
dibelakangnya. Sehingga dapat digambarkan aktivitas itu sebagaimana yang
dilihat oleh masyarakat pelaku budaya itu sendiri.
Penelitian
antropologi memperlihatkan bahwa masyarakat Batak bersifat religius.
Artinya, seluruh unsur kebudayaannya dipengaruhi dan dibentuk oleh
keyakinan religi leluhur. Religi yang dimaksud adalah “agama Batak” atau
Hasipelebeguon. Segala upacara adat didasarkan atas ide, gagasan,
nilai, paradigma, ajaran dan kuasa dari roh sembahan leluhur. Jadi,
upacara adat bukan sekedar tradisi leluhur, melainkan rangkaian ritual
agama Batak yang diajarkan kepada keturunannya.
Melalui
upacara adat itu, para leluhur berupaya mengatasi berbagai bahaya yang
mengancam kehidupannya dan menjamin berkat (pasu-pasu) dari para roh
yang menjadi sembahan mereka. Religi Batak mengenal nama dewa yang
diyakini sebagai dewa tertinggi yang dipanggil dengan Ompu Mulajadi
Nabolon atau Debata Mulajadi Nabolon. Disamping itu dikenal juga
beberapa dewa lainnya yang bernama: Batara Guru, Mangala Bulan, Mangala
Sori, Debata Asiasi, Boraspati Ni Tano, Boru Saniang Naga, roh-roh para
leluhur dan berbagai macam jenis begu lainnya. Seluruh roh sembahan ini
dimanfaatkan untuk melindungi mereka dari berbagai bentuk bahaya dan
malapetaka, dan menjamin tercapainya kekayaan (hamoraon), kemuliaan
(hasangapon), dan keberhasilan hidup (hagabeon).
Dengan
menyebut upacara “agama Batak” dengan istilah “tradisi warisan leluhur”
atau “adat”, maka Iblis berhasil memperdaya banyak orang Kristen,
dengan membutakan mata rohaninya dari segala jerat kelicikan Iblis yang
di-sembunyikan di dalam upacara itu. Hal itu lebih dimungkinkan lagi
karena kita tidak pernah bertanya lebih dalam tentang apakah
sesungguhnya yang diwariskan oleh leluhur itu. Kita menerima begitu saja
keberadaan upacara adat itu. Orang Batak lebih cenderung memahami
detail dan urutan pelaksanaan upacara adat. Pembahasan tentang kedua
unsur ini bisa memunculkan suatu debat yang sengit dan panas. Tetapi
sangat jarang dijumpai orang Batak, yang mengerti makna rohani dari
upacara itu, dan yang mempertanyakan tentang prinsip-prinsip yang ada
dibelakang upacara itu.
PANDANGAN INJIL TERHADAP UPACARA ADAT BATAK
Salah
satu perbedaan terbesar antara masyarakat di belahan dunia Timur dengan
di belahan Dunia Barat adalah dalam hal adat istiadat. Kehidupan
masyarakat Timur dipenuhi dengan berbagai jenis upacara adat, mulai dari
masa dalam kandungan, kelahiran, penyapihan, perkawinan, penyakit,
malapetaka, kematian dan lain -lain. Upacara-upacara di sepanjang
lingkaran hidup manusia itu di dalam antropologi dikenal dengan istilah
rites de passages atau life cycle rites.
Peralihan
dari setiap tingkat hidup ditandai dengan pelaksanaan suatu upacara
adat khusus. Upacara ini didasarkan pada pemikiran bahwa masa peralihan
tingkat kehidupan itu mengandung bahaya gaib. Upacara adat dilakukan
agar seseorang atau sekelompok orang terhindar dari bahaya atau celaka
yang akan menimpanya. Malahan sebaliknya, mereka memperoleh berkat dan
keselamatan. Inilah salah satu prinsip universal yang terdapat di balik
pelaksanaan setiap upacara adat itu.
Beberapa
life cycle rites yang dijumpai pada masyarakat Batak Toba di antaranya:
mangganje (kehamilan), mangharoan (kelahiran), martutu aek dan mampe
goar (permandian dan pemberian nama), marhajabuan (menikah), mangompoi
jabu (memasuki rumah), manulangi (menyulangi/menyuapi), hamatean
(kematian), mangongkal holi (menggali tulang belulang), dll. Pada
masyarakat Batak lainnya (Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan
Pakpak Dairi), upacara tersebut memiliki sebutan-sebutan yang berbeda.
Persoalan
besar dan sangat penting yang dihadapi oleh seseorang yang memutuskan
untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus adalah: apakah dia masih
boleh terlibat dalam upacara adat Batak yang berasal dari masa ketika
leluhurnya hidup dalam kegelapan rohani (haholomon) dan penyembahan
berhala (hasipelebeguon). Permasalahan tersebut muncul ketika Injil
Tuhan Yesus diberitakan pertama kalinya oleh para Missionaris di Tanah
Batak, dan terus berlanjut hingga masa kini. Persoalan ini belum tuntas
diselesaikan, baik sewaktu Pdt. I.L. Nommensen masih hidup, pada masa
gereja dipimpin para Missionaris penerusnya, maupun pada masa pimpinan
gereja berada di tangan orang Batak sendiri. Nommensen mencoba membagi
upacara adat atas tiga kategori, yaitu:
i. Adat yang netral
ii. Adat yang bertentangan dengan Injil
iii. Adat yang sesuai dengan Injil
Sebelum
masalah itu tuntas, beliau mengambil kebijaksanaan untuk melarang keras
dilaksanakannya upacara adat Batak oleh orang Kristen Batak, termasuk
penggunaan musik dan tarian (gondang dan tortor) Batak. Akibatnya,
jemaat yang baru dilayani pada masa itu banyak yang dikucilkan dari
masyarakat, sehingga Nommensen terpaksa menampung mereka dengan
membangun perkampungan baru, yang disebut Huta Dame.
Bahkan
Raja Pontas Lumban Tobing pernah dikenai disiplin gereja karena
menghadiri sebuah upacara kematian. Raja Pontas Lumban Tobing adalah
orang yang memberikan tanahnya di Pearaja, Tarutung untuk dipakai bagi
kegiatan pelayanan gereja. Dia termasuk seorang raja
Batak yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus di awal pelayanan Nommensen. Raja ini mempunyai andil yang cukup besar dalam penyebaran Injil, khususnya dalam menjangkau raja-raja di wilayah Silindung.
Batak yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus di awal pelayanan Nommensen. Raja ini mempunyai andil yang cukup besar dalam penyebaran Injil, khususnya dalam menjangkau raja-raja di wilayah Silindung.
Namun
sampai akhir hidupnya, Nommensen gagal menyelesaikan masalah tersebut.
Salah satu sumber kegagalan Nommensen terletak pada kategori yang
dibuatnya sendiri. Nommensen sulit menentukan upacara adat Batak mana
yang tidak bertentangan dengan Injil dan upacara adat mana yang netral.
Pada
masa-masa akhir pelayanan para Missionaris di Tanah Batak,
ditengah-tengah umat Kristen Batak muncul suatu desakan untuk
mempertahankan berbagai upacara adat Batak dan mengganti kepemimpinan
gereja dengan orang Batak sendiri. Usaha tersebut baru berhasil dengan
diangkatnya Pdt. K. Sirait menjadi Ephorus Batak pertama (1942).
Tekanan
supaya diizinkannya kembali upacara adat muncul sebagai dampak negatif
dari strategi penginjilan di tanah Batak dengan pendekatan struktural
masyarakat Batak. Penginjilan dilakukan dengan memusatkan perhatian
kepada raja-raja yang memimpin di wilayah masing-masing marga.
Pertobatan seorang raja biasanya segera diikuti dengan pembaptisan
massal dari penduduk di wilayah itu, yang umumnya memiliki ikatan
kekerabatan dengan sang raja. Dengan cara ini, para Missionaris berhasil
dengan cepat mengkristenkan wilayah Tapanuli bagian Utara.
sPdt.
I.L.Nommensen yang pelayanan utamanya berada di Silindung memiliki
sikap yang tegas melarang keberadaan berbagai unsur upacara
Hasipelebeguon, termasuk tortor dan gondang. Tetapi Gustav Pilgram yang
melayani di Balige dan sekitarnya justru mengizinkan tortor dan gondang
dilaksanakan dengan beberapa persyaratan seperti: unsur hasipelebeguon
harus dihilangkan, pemimpinnya harus missionaris, dilaksanakan pada
siang hari, peralatannya milik orang Kristen, dan tidak boleh diikuti
oleh orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus.
Perbedaan
sikap Pilgram itu dianggap oleh banyak orang Batak sebagai lampu hijau
bagi penerimaan adat Batak di dalam kekristenan. Mereka tidak memahami
alasan Pilgram mengizinkan dan memahami sikap dasar Pilgram bahwa segala
bentuk hasipelebeguon tetap harus disingkirkan dari kehidupan
kekristenan. Alasannya untuk mengizinkan tortor dan gondang dapat kita
baca dari “referat 1885” (dikutip dari buku “Parsorion ni Gustav
Pilgram”, karangan DR. Andar Lumban Tobing): “Disipareonta
tung sogo do gondang i, jala tortor i pe ndang pasonanghon pamerenganta.
Alai na mansai manarik gondang dohot tortor i di halak Batak, boi do
dibuktihon godang ni loloan na bolon na mandohotsa. Haru angka Kristen
dohot angka parguru pe, tung maol do padaohon nasida sian i. Aut so
manarik situtu na ginoran ondeng tu halak Batak i, ndang apala penting
tema i, ia so i, molo halak Kristen naung marpangalaman sambing do
siadopanta dison, na so mamorluhon gondang dohot tortor, ndang penting
tema ginoran nangkin, ai manang ise marnampunahon Anak ni Amata, nunga
di ibana hangoluan na saleleng-lelengna, nunga martua nuaeng nang ro di
saleleng-lelengna, jala ndang mamorluhon gondang dohot tortor be ibana.
Alai dison angka Kristen na baru tardidi dope dohot angka na so
marpangalaman, na ingkon sitogu-toguon dope songon dakdanak. Didok
rohangku, ndang adong hakta mambuat sude sian nasida naung adong hian di
nasida, saleleng so adong pangantusion di nasida mangonai na dumenggan i
na naeng boanonta tu nasida.” Pilgram tidak setuju, namun terpaksa
mengizinkan keberadaan gondang dan tortor. Mereka dinilai belum memiliki
pengertian akan Kristus, belum berpengalaman, masih seperti seorang
anak kecil. Dia berkeyakinan, bila orang Batak itu sudah memiliki
pengenalan akan Kristus (dewasa rohani), dia akan mengenal arti hidup
yang kekal di dalam Kristus itu, dan pada akhirnya mereka tidak
memerlukan lagi tortor dan gondang itu dan meninggalkannya. Jadi tidak
perlu dipaksa. Namun, setelah ditunggu selama seratus lima belas tahun
kemudian, yakni awal tahun 2000 ini, masih banyak orang Kristen Batak
yang masih hidup didalam tingkat rohani seperti yang dikatakan oleh
Pilgram itu. Alangkah pedihnya hati Pilgram kalau melihat kenyataan
seperti yang ada saat ini.
Pendudukan
Jepang memaksa para Missionaris meninggalkan Indonesia tanpa berhasil
menuntaskan masalah upacara adat. Kepergian mereka meninggalkan
kekosongan teologia (theologia in loco) dan kebingungan rohani di
tengah-tengah Jemaat Batak. Keterikatan dengan pola hidup lamanya telah
mendorong Jemaat untuk mendesak pimpinan gereja mengizinkan kembali
pelaksanaan berbagai upacara adat. Desakan ini didukung oleh argumentasi
teologis yang dikemukakan para pemimpin rohani yang belum mengalami
pembaharuan total dalam pola pemikirannya.
Argumentasi
teologis tersebut merupakan suatu pemahaman Injil yang mengkompromikan
kebenaran ajaran Injil dengan ajaran agama Batak, teologia yang bersifat
sinkretis (pengajaran atau cara hidup yang berasal dari campuran dua
atau lebih ajaran), yang dapat diterima oleh pemikiran jemaat
kebanyakan. Dalam teologi ini diakui bahwa Yesuslah satusatunya Jalan,
Kebenaran, dan Hidup, tetapi dalam hidup sehari -hari perlu
dipertahankan upacara adat (agama) Batak, yang diketahui dengan jelas
berasal dari Hasipelebeguon. Teologi Sinkretis inilah yang diajarkan
kepada Jemaat Kristen Batak sampai hari ini. Teologi Sinkretis ini telah
menjadi arus utama didalam pemahaman iman Jemaat Kristen Batak pada
masa sekarang.
Akibatnya,
pada generasi berikutnya merebak kembali pelaksanaan berbagai upacara
adat yang sebelumnya telah dilarang oleh para Missionaris untuk
dilakukan. Sebagai contoh, upacara kematian (hamatean), upacara
memindahkan tulang belulang (mangongkal holi),
pelaksanaan tortor dan gondang Batak di gereja dan berbagai upacara lainnya.
pelaksanaan tortor dan gondang Batak di gereja dan berbagai upacara lainnya.
Bukan
itu saja, upacara penyembahan nenek moyang yang merupakan inti agama
Batak pada masa kegelapan, kembali merebak dilakukan oleh masyarakat
Batak Kristen sekarang. Kebangkitan penyembahan ini mengambil bentuk
baru yang ditandai dengan menjamurnya pembangunan tugu-tugu marga Batak.
Anda dapat melihat banyaknya tugu yang dibangun di sepanjang jalan
lintas antara kota Parapat dengan kota Tarutung. Tugu tersebut dibangun
oleh keturunan marga yang berasal dari satu garis leluhur (ompu
parsadaan). Pembangunan ini telah menghabiskan dana sangat besar,
bahkan mendatangkan kemerosotan rohani yang dalam. Kalau dahulu
Nommensen mau dikorbankan oleh orang Batak kepada roh sembahan leluhur
marganya diatas bukit Siatas Barita, maka sekarang yang terjadi
sebaliknya. Banyak pendeta dan penatua pemimpin kebaktian pada acara
pemujaan roh nenek moyang di tugutugu marga.
Ironisnya
lagi, pelaksanaan upacara dari masa kegelapan itu dibungkus dengan
kebaktian gerejawi, yang dilaksanakan di lokasi pendirian tugu marga
dimana tulang belulang leluhur tersebut dikuburkan kembali. Proses
pembangunan tugu juga banyak melibatkan kuasa-kuasa setan melalui datu
(spirit medium), misalnya untuk menentukan lokasi penggalian tulang
belulang leluhur marga.
Tanpa
disadari umat Tuhan di tanah Batak telah berubah menjadi umat yang
mendua hati (shizoprenis: terpecah), yang pada satu sisi mencoba untuk
mengikuti ajaran Yesus Kristus, pada sisi yang lain giat melakukan
ajaran agama nenek moyangnya. Dalam hidup keseharian terjadi pencampuran kedua ajaran agama (sinkretis),
yaitu agama leluhur dan Injil Yesus Kristus. Akibatnya kekristenan
orang Batak menjadi kompromis, permisif dan kebenaran Injil yang mutlak
menjadi relatif. Satu kaki berpijak pada Injil
(?), dan kaki lainnya berpijak pada Adat (agama Hasipelebeguon). Satu
sisi dalam terang, sisi lain dalam kegelapan.
Sinkretisme
orang Kristen Batak dapat kita lihat di dalam pelaksanaan perkawinan.
Perkawinan orang Kristen Batak dilakukan dengan dua jenis upacara:
upacara kegerejaan yang biasanya dilanjutkan dengan upacara agama Batak.
Pelaksanaan kedua upacara tersebut merupakan suatu keharusan, sekalipun
tidak ada hukum formal maupun Firman Tuhan yang memerintahkannya.
Pernikahan secara gerejani, tanpa diikuti dengan pelaksanaan upacara
adat Batak, sering menimbulkan konflik besar di dalam keluarga orang
yang hendak menikah. Di gedung gereja, orang Batak melakukan upacara
kekristenan, sedangkan di luar gedung gereja mereka melakukan upacara
agama leluhur. Perbedaannya hanya terletak pada orang yang memimpin
upacara. Dulu dipimpin oleh Datu, sekarang digantikan oleh Pendeta.
Peranan datu digantikan oleh pendeta, tetapi rangkaian upacara adat
(agama leluhur) selanjutnya tetap sama. Berkat (pasu-pasu) dari Tuhan
Yesus dianggap belum cukup, dan perlu disempurnakan dengan berkat dari
hula-hula dan lainnya. Kesempurnaan dan kemutlakan karya Yesus Kristus
telah disingkirkan demi mempertahankan upacara kegelapan warisan leluhur
itu.
Sinkretisme
ini bukan hanya terjadi di kalangan gereja -gereja tradisional Batak,
tetapi juga telah merembes kepada orang-orang Kristen Injili yang
mengaku Alkitabiah, menjunjung tinggi keunikan Injil dan lebih giat
memberitakannya. Dari mimbar kaum Injili yang ada di Sumatera Utara
sering disuarakan dukungan atas pelaksanaan upacara adat Batak.
Merekapun banyak yang terlibat di dalam pelaksanaan aktivitas tersebut.
Orang
Batak telah melupakan prinsip rohani bahwa terang tidak dapat bersatu
dengan gelap, dan kebenaran tidak dapat dipersatukan dengan
ketidakbenaran. Dalam bahasa Tuhan Yesus: “Tidak seorangpun dapat
mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikia n, ia akan membenci yang
seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang
dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Tuhan
dan kepada Mammon” (Matius 6:24).
Seiring
dengan merebaknya kembali aktivitas upacara adat di tengah-tengah
bangsa Batak, kemerosotan rohani yang besar terjadi, baik pada kaum
awam, maupun pada pemimpin gereja. Kemerosotan itu nampak pada banyaknya
perpecahan dalam gereja Batak, contohnya kasus perpecahan gereja HKI,
GKPI, dan HKBP. Perpecahan itu juga telah terjadi pada hampir setiap
gereja suku di Sumatera Utara. Perpecahan gereja Batak banyak bersumber
pada akar budaya Batak itu sendiri, dan konflik kepentingan di antara
pemimpin umat; bukan karena masalah teologia. Perpecahan yang besar
berpuncak pada kasus gereja HKBP yang sangat menghebohkan, yang telah
banyak mengorbankan materi, darah bahkan nyawa manusia. Semuanya sangat
mempermalukan nama Tuhan Yesus.
Kemuliaan
dan kehormatan yang seharusnya diberikan kepada Tuhan Yesus, telah
diberikan kepada iblis dan Pemimpin Jemaat. Wajar jikalau damai Tuhan
Yesus tidak ada disana. Seruan para malaikat di Betlehem mengajarkan
bahwa damai Tuhan hanya akan diberikan kepada orang yang berkenan
kepada-Nya, yaitu orang yang memberikan kemuliaan kepada Tuhan Yesus.
“Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di
bumi diantara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14). Gereja
HKBP (tempat penulis saat ini bergereja) sering diserukan sebagai “HKBP
Na bolon I” (HKBP yang besar), padahal gelar Na Bolon I tersebut hanya
layak diberikan kepada Yesus Kristus.
Gereja
yang seharusnya Duta Pembawa Damai di dunia, telah berubah menjadi
sekumpulan orang-orang yang saling berperang. Gereja telah menjadi arena
peperangan baru bagi orang Batak di zaman modern ini. Peperangan bukan
hanya terjadi di kalangan kaum awam, namun juga telah merebak sampai
kepada pucuk pimpinan gereja itu sendiri. Sangat tepat dikatakan bahwa
orang Batak telah kembali kepada masa hidup nenek moyangnya, yang
ditandai dengan tingkat konflik yang tinggi, dimana sering terjadi
peperangan (marporang) antar kampung (huta). Konflik di gereja HKBP
beberapa tahun belakangan ini merupakan contoh terbesar dari peperangan
antara sesama orang Batak masa kini.
Pemberitaan
keselamatan manusia di dalam Tuhan Yesus, yang seharusnya merupakan
kesibukan utama bagi gereja Tuhan, telah berganti dengan banyaknya waktu
yang terbuang untuk mengikuti berbagai upacara adat. Kelalaian dalam
melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus tidak pernah dinyatakan sebagai
dosa yang serius oleh pimpinan gereja. Tetapi, penolakan aktivitas
upacara adat, atau ketidaktepatan pelaksanaan upacara adat segera akan
mengundang komentar yang tajam dan ramai. Perdebatan dan pertengkaran
karena masalah adat merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan
sehari-hari.
Kemerosotan
rohani dapat kita lihat juga dalam kehidupan sehari-hari. Anda jangan
heran, jikalau pada masa sekarang, banyak orang Batak Kristen yang
sangat takut untuk tidak melakukan upacara adat. Sementara untuk tidak
mentaati Firman Tuhan itu merupakan hal yang dianggap sepele saja oleh
mereka. Bahkan, sering dijumpai orang yang lebih senang dikatakan
sebagai orang yang tidak “ber-Tuhan” (ndang martuhan) daripada dikatakan
sebagai orang yang “tidak beradat” (ndang maradat). Tanpa disadari,
adat Batak telah kembali menjadi berhala atau ilah yang dijunjung tinggi
di hati orang Kristen Batak.
Kemerosotan
rohani juga dapat kita lihat pada banyaknya orang-orang Kristen Batak
yang terlibat berbagai dosa seperti perdukunan, spiritisme (berhubungan
dengan arwah orang mati), memberikan persembahan di kuburan, perzinahan,
kebebasan seksual, rentenir, perjudian, kemabukan, korupsi,
suap-menyuap, pembunuhan, kekerasan (premanisme), perkelahian dan
berbagai dosa lainnya.
Dalam
dunia pekerjaan, berbagai jabatan yang penting dan strategis di
birokrasi dan pemerintahan, yang pada awal kemerdekaan banyak dipegang
oleh orang Kristen Batak, pada saat ini telah beralih kepada orang-orang
lain. Bukan itu saja, peluang untuk mendapatkan pekerjaan khususnya
dalam birokrasi dan pemerintahan menjadi sangat sulit diperoleh oleh
orang Batak Kristen, kecuali dengan menyogok (ber-KKN).
Kita
semua tahu bahwa banyak orang Kristen Batak yang telah menjual imannya
(iman kepada Yesus Kristus), demi memperoleh suatu pekerjaan,
pernikahan, pangkat dan jabatan. Barter harta rohani yang tak ternilai
harganya, dengan barang-barang murahan dari dunia ini telah banyak
dilakukan oleh kaum Esau dari Bona Pasogit, Tano Batak. Firman Tuhan
dibawah ini patut menjadi bahan pemikiran kita:
“Tuhan
akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau
akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan TUHAN,
Bapamu, yang kusampaikan pada hari ini engkau lakukan dengan setia”
(Ulangan 28:13).
Karena
itu, persoalan adat kini harus diselesaikan, karena kita mengetahui
bahwa upacara tersebut telah menimbulkan masalah rohani yang besar. Kita
tidak mau membiarkan iblis memperoleh kembali peluang untuk
mencengkramkan kukunya pada generasi Batak saat ini. Semuanya itu sangat
mendukakan hati Tuhan dan mendatangkan murka atas bangsa Batak. Karena
itu sudah merupakan kewajiban dari generasi Kristen Batak pada masa kini
untuk mengevaluasi kembali kehidupan kerohaniannya di hadapan Tuhan
Yesus. Evaluasi tersebut mencakup cara pandang, sikap dan tindakan kita
terhadap eksistensi upacara adat.
Evaluasi
itu hanya mungkin dilakukan apabila kita mau datang kepada Tuhan Yesus
dengan sungguh-sungguh, dan meminta dengan tekun agar Dia menerangi hati
kita, dan ;menyingkapkan rahasia Firman-Nya. Karena hanya Tuhan Yesus,
melalui Roh-Nya, yang memiliki otoritas mutlak dalam menafsirkan seluruh
kebenaran Firman Tuhan. Sehingga Dia berkenan mengoreksi segala
pemikiran, konsep, nilai, prinsip, cara dan tindakan kita selama ini.
Seruan untuk kembali kepada Tuhan Yesus sangat mendesak untuk
diberitakan pada saat ini. “Wahai bangsa Batak, kembalilah kepada Tuhan Yesus”, “Back to Jesus!”Semuanya
ini hanya mungkin, bila kita mau merendahkan hati untuk dikoreksi dan
diajar oleh Tuhan Yesus, sama seperti seorang anak kecil, yang memiliki
kepolosan, keterbukaan dan kejujuran untuk diajar.
Bukan
untuk sekedar menambah pengetahuan teologia belaka, tetapi benar-benar
untuk mentaati-Nya. Karena Roh Kudus hanya akan mengerjakan hal tersebut
bila kita dinilai-Nya telah memiliki ketaatan hati, sekalipun kebenaran
itu sangat pahit untuk memulainya (Kisah Para Rasul 5:32). Karena itu,
doa sang Pemazmur sangat relevan untuk dipanjatkan secara
sungguh-sungguh oleh orang-orang Kristen Batak:
“Selidikilah
aku, ya Tuhan, dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenalilah
pikiranku; lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan
yang kekal.” (Mazmur 139:23,24)
Kajian
ini mencoba melihat kembali tentang sikap dan pandangan Tuhan terhadap
masalah upacara adat, khususnya yang hidup dalam masyarakat Batak,
dengan mengambil contoh kasus utamanya dari sub suku bangsa Batak Toba.
Penulis hanya akan membatasi pembahasan pada beberapa prinsip-prinsip
utama yang mendasari pelaksanaan upacara adat, dan tidak akan
menguraikan detail dari pelaksanaan upacara tersebut. Karena melalui
renungan ini, tidak mungkin menguraikan dan mengkaji segala aspek dari
berbagai macam upacara adat yang ada di tengah-tengah masyarakat Batak.
Pertentangan
pasti muncul, karena sudut pandang dalam melihat adat itu memang
berbeda. Pandangan Kristus tidak pernah sama dengan pandangan manusia
yang duniawi. Pandangan Kristus jauh lebih tinggi dari pandangan
duniawi. Penafsiran seseorang mengenai adat istiadat muncul dari suatu
titik pijakan, sikap hati dan tujuan yang hendak dicapainya.
Persoalannya, apakah kita memiliki dasar pijakan yang sama dengan Tuhan
Yesus? Kuasa Roh Kudus hanya akan menyertai dan mengurapi orang-orang
yang memberitakan Firman sesuai dengan maksud-Nya. Penulis sangat
terkejut ketika membaca sebuah buku, yang berjudul “Christ and Culture”
(Kristus dan Kebudayaan), yang ditulis oleh seorang teolog terkenal,
yang bernama DR. Richard Niehbur. Dalam buku tersebut dijelaskan alasan
menyebabkan orang-orang Yahudi dan para pemimpin bangsa tersebut
menyalibkan Tuhan Yesus. Niehbur berpendapat bahwa orang-orang Yahudi
membunuh Tuhan Yesus karena segala pengajaran dan tindakan Tuhan Yesus
merusak adat istiadat dan agama Yahudi, yang sangat mereka banggakan.
Akhirnya, mereka harus memilih, antara membinasakan Tuhan Yesus atau
membiarkan agama dan adat istiadat Yahudi hancur. Demi mempertahankan
keutuhan adat dan agama tersebut, mereka memilih untuk membinasakan
Tuhan Yesus, orang yang dianggap sebagai sumber kerusakan itu.
Peristiwa
tersebut menjadi pelajaran, sekaligus tantangan bagi kita sebagai
pengikut Kristus didalam menghadapi kontroversi masalah adat. Yesus
Kristus hadir di tengah-tengah kemerosotan rohani bangsa Israel yang
menjalar di seluruh bidang kehidupan. Dia segera mengenali
ketidakberesan bangsa tersebut dalam cara pandang dan sikap terhadap
Firman- Nya. Lalu, dari mulut-Nya yang kudus keluar penilaian dan
koreksi-Nya terhadap agama dan adat istiadat bangsa tersebut.
Demikian
juga bagi bangsa Batak, di tengah-tengah kemerosotan rohani yang
terjadi masa kini, sangat diperlukan kembali adanya suatu
reinterprestasi dan pembaharuan sikap akan eksistensi upacara adat Batak
yang berasal dari masa kegelapan itu. Dengan kata lain, gereja Tuhan di
tanah Batak sangat memerlukan “reformasi iman” dalam kehidupan
rohaninya. Karena itu, kita ditantang Tuhan untuk mengambil sikap,
antara menyuarakan Injil atau mempertahankan berbagai upacara adat
tersebut.
Kesimpulan
Pada
awal milenium ketiga ini, dimana saat kedatangan Tuhan Yesus semakin
dekat, dibutuhkan adanya suatu kebangunan rohani di tengah-tengah bangsa
Batak. Kebangunan rohani akan dimulai, jikalau ada orang-orang Batak
yang memiliki cara pandang dan sikap yang lebih tajam dan Injili didalam
menilai eksistensi upacara adat, serta memiliki keberanian untuk
menyuarakannya pada zaman ini. Karena hanya orang-orang yang seperti ini
yang akan diperlayakkan TUHAN untuk memasuki arena peperangan rohani
melawan kuasa-kuasa kegelapan, yang telah membelenggu, membutakan serta
melumpuhkan kehidupan umat Tuhan di tanah Batak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar